Minggu, 12 Oktober 2014

Pementasan Teater Cannibalogy
RedaksiMinggu, 12 Oktober 2014 0 komentar

Teater menjadi salah satu media untuk merefleksikan kebudayaan. Posisinya sebagai jenis kesenian yang menjadi perpaduan dari berbagai jenis kesenian lainnya—tari/gerak, musik, sastra, seni rupa— di luar seni peran (akting), membuat seni teater kerap dipandang sebagai ekspresi kebudayaan paling lengkap di bidang seni.

Di sisi lain, teater yang dalam Bahasa Jawa dikenal dengan sebutan sandiwara—sandi (simbol) dan wara (berita)—maka teater juga dapat dipahami sebagai penyampai simbol atau tanda. Sebagai penyampai tanda, seni teater juga berperan menjadi semacam pembawa pesan atau makna-makna tertentu—lewat permainan laku (akting), musik, tata panggung, hingga cerita atau lakon yang disuguhkan.

Pada titik ini, seni teater kerap memainkan peran yang sangat penting dalam mengkomunikasikan sesuatu, melakukan analisis yang kritis terhadap realitas sosial yang ada, dan pada kesempatannya kelak akan memberikan pencerahan maupun pandangan kepada audiens dalam memandang dan menyikapi suatu persoalan. 

Berangkat dari latar belakang pemikiran semacam inilah, Teater Syahid UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, berencana menyajikan sebuah pementasan teater yang semoga mampu membawa audiens pada satu sudut pandang positif dalam menyikapi problematika bangsa Indonesia yang sedang dihadapi sekarang, kesadaran tentang sejarah dan masa depan nasib bangsa dengan benar. Kami berharap mampu membuka jiwa, hati dan pikiran para generasi bangsa sehingga mampu memperbaiki citra bangsa, kemudian menghapus gelar peringkat korupsi yang sedang disandang. 

Oleh karena itu, kami persembahkan pementasan teater dengan judul Cannibalogy karya Benny Yohanes, yang akan disutradarai oleh Bangkit Sanjaya sebagai alternatif yang paling efektif.
Pijakan pemilihan naskah pementasan Teater Syahid pada kesempatan ini mengusung lakon Canniballogy garapan Benny Yohannes, salah seorang penulis naskah drama dan dosen di STSI Bandung. Alasan pemilihan naskah adalah kesesuaian isi naskah dengan keadaan negeri kita saat ini dalam mentradisikan budaya kanibalisme secara turun-temurun. 

Oleh karena itu, kami mencoba mengembalikan ingatan audiens pada sejumlah sejarah hitam yang sudah sepatutnya dijadikan teladan atau pelajaran dalam menjalani roda keberlangsungan sekarang dan mendatang. 

Sedikit mengulas Canniballogy, BenJon menghadirkan tokoh Suman[to] dan Suhar[to] dalam sebuah laku yang hakikinya merupakan homo homini lopus 'manusia menjadi serigala bagi sesamanya' dan tergambar dengan sebenarnya. Di sisi lain, ini merupakan  sindiran sinis karena latar yang digunakan dalam cerita menggunakan nama Mojokuto, sebuah lokasi yang disamarkan menjadi base camp dari antropolog Cliffort Geertz, yang terkenal dengan bukunya “Religion of Java”. 

Dalam fragmen lain, dideskripsikan tokoh Suman, pemuda miskin yang diadili Mas Ageng akibat 
ulahnya memakan daging manusia. Ini menggambarkan bahwa jurang pemisah antara si miskin dan si kaya memang mengakibatkan munculnya tindakan tidak manusiawi,  namun tetap bisa diperlakukan bijak. BenJon juga menghadirkan tokoh Landless berkostum pemain bola sebagai simbol sistem kolonial Belanda yang dinilai piawai, sitematis, namun licik dalam menyusun strategi. Selain itu, ditampilkan pula empat penari serimpi dari kalangan Landless, gambaran lemahnya generasi muda dalam mempertahankan keaslian nilai budaya Indonesia dan lebih memilih menyerap mentah-mentah kebudayaan asing. 

Sebelas Maret dijadikan BenJon sebagai tonggak ketidakberdayaan rakyat Indonesia menerima budaya kanibalisme yang dimandatkan pemimpin pada waktu itu. Rakyat diminta untuk mengikuti sistem kekuasan yang berlaku, menghukum dan menghabisi. 

Konsep penyutradaraan, Cannibalogy merupakan naskah interteks/terbuka, yakni teks yang membawa audiens pada banyak penafsiran, seperti keserupaan kejadian dengan sejarah, kontekstualitas dan beberapa penafsiran lainnya, sebab BenJon sendiri merefleksikan beberapa naskahnya pada sebuah pencarian. Tapi kemudian, sutradara memiliki keinginan menghadirkan nuansa humor di dalamnya dengan tetap mempertahankan esensi faktual dari unsur visual pada tokoh-tokoh dalam naskah ini. Hal ini dipertahankan demi pembuktian atas dimensi psikologis rakus Suhar masih aktual sebagai “pemakan” hak orang lain atau “pembunuh” kemanusian di Indonesia.





Nilai sejarah dijadikan perbandingan kehidupan masa silam dengan kekinian seperti dimunculkannya tokoh Landlees, Hoffmann, Ageng Rais, Ki butho. Nilai roman dihadirkan tokoh Sinta Salim dengan watak yang halus namun tegar.
Lantaran kental dengan sejarah perpolitikan Indonesia, dalam prosesnya, naskah Cannibalogy dibedah dengan serius. Sebab kita haram bermain-main dengan sejarah. Pun dengan dunia politik Indonesia, literasi haruslah kuat sebagai pijakan fakta yang real. Maka Teater Syahid telah beberapa kali mengadakan diskusi internal, membahas rentetan peristiwa dalam sejarah Indonesia dan berencana mengadakan diskusi publik pra-pementasan berbenang merah dunia politik dengan tema, “Rasionalitas dan Irasionalitas Budaya Politik di Indonesia”. Sebagai penguat dan stimulus rangkaian pementasan. 
Peristiwa yang terjadi dalam dunia politik Indonesia sekarang, mungkin tidak berlebihan jika dikatakan mistik. Peralihan kekuasaan, pergantian pemegang tongkat komando, pergantian pemimpin—bahkan dari sektor paling kecil—selalu disertai dengan berbagai peristiwa mistik bahkan klenik. Mistik dan klenik di sini dalam pengertian paling purba, yakni menyertakan dan meminta kekuatan tertentu dalam menggapai atau melanggengkan keinginan. Artinya, mistik dan klenik ini bersifat sangat spiritual. Ia memiliki relasi yang sangat kuat dengan dunia "lain" yang oleh manusia modern sering dipahami sebagai perilaku irrasional. Tapi, apakah manusia modern yang konon berpijak pada landasan rasionalitas benar-benar telah melepas prinsip-prinsip irrasional? Sepertinya tidak.
Tak hanya pilihan melakoni jalan mistik, dalam budaya politik kita juga sangat kental dengan persoalan mitologis. Hampir di setiap perhelatan demokrasi neagara kita seperti pemilu, konsep-konsep semacam Wangsit, Satrio Paningit, hingga Ratu Adil selalu muncul tak terbendung. Masing-masing dari pendukung memberikan paparan argumentatif yang lagi-lagi tak peduli pada wilayah rasional dan irrasional. Dalam konteks ini, diskursus tidak sedang direduksi pada persoalan apa sesungguhnya hakikat rasional dan irrasional. Hal yang lebih penting, pilihan rasional atau irrasional, apakah kemudian memberikan nilai luhur bagi keberlangsungan tatanan kebudayaan bangsa ini?







Dari sejumlah proposisi dan kegelisahan di atas, sebagai penguat agenda diskusi, Teater Syahid mengundang narasumber dari kalangan yang berbeda, yakni Radhar Panca Dahana (Budayawan), Burhanuddin Muhtadi (Pengamat Politik dan dosen FISIP UIN Jakarta), Ahmad Baso (Wakil Ketua PP Lakpesdam-NU ). Diskusi umum ini selain diadakan untuk memperkuat persiapan pementasan, juga diharapkan dapat menjadi ajang terbuka dari berbagai kalangan dalam melihat Budaya Politik di tanah air kita. Diskusi akan berlangsung pada hari Kamis, 2 Oktober 2014, pukul 13.00 - 16.30 WIB di Auditorium Prof. Dr. Harun Nasution UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Terbuka untuk umum.
Kembali pada isi naskah, jika dikerucutkan, nilai-nilai yang terkandung dalam Cannibalogy adalah kesabaran, semangat kemanusiaan, kesetiaan dan patriotisme. Sehingga dihadirkanlah oleh sutradara unsur dramaturgi, ludruk, unsur bunyi, koreografi; gerak,  cahaya, dan musik yang dikemas apik bersama unsur artistik yang membawa audiens pada pencerahan sebagai bentuk implementasi nyata dari refleksi kebudayaan sekaligus kondisi politik saat ini. 
Pertunjukan akan berlangsung pada hari Kamis-Sabtu. Pada tanggal 16, 17 dan 18 Oktober 2014, pukul 20.00 dengan HTM Rp.15.000,- dan OTS Rp. 20.000,-. Bertempat di Hall Student Center, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta. Reservasi Tiket: 08986788409 (AL) / 081906360686(Dede). 
Kami yakin, pementasan ini mampu memberikan kontribusi positif dalam memperjuangan kebudayaan dan perbaikan paradigma generasi muda menjadi lebih baik lagi, tidak sekadar menjadi generasi cetak yang buta akan sejarah dan persoalan negara.*


Kamis, 10 Juli 2014

Bukan hanya kita disekolah
RedaksiKamis, 10 Juli 2014 1 komentar


Malam itu, tepatnya pada saat kami sedang melakukan persiapan untuk ajang perlombaan tahunan yang biasa diadakan oleh osis di sekolah kami. Ketika itu saya dan teman berada dilapangan mulai dari pukul 10 pagi untuk mengecat lapangan yang digunakan untuk salah satu perlombaan yang kami adakan. Tak terasa setengah hari telah berlalu dan lapangan pun belum selesai dicat, padahal lapangan akan dipergunakan pada keesokan harinya dan mau tidak mau kita para osis harus berkerja keras untuk menyelesaikan pengecatan lapangan. 

Lelah seakan tak terasa pada diri kami karena yang kami fikirkan adalah bagaimana caranya acara ini bisa berjalan dengan lancar. waktu magrib pun telah datang kami para anggota osis berkumpul di mushola untuk beristirahat sejenak, melepas lelah dan berniat untuk melanjutkan pekerjaan kami setelah tenaga kami terkumpul semua. "Dug" suara gendang marawispun jatuh ketika kami sedang bersantai sambil membicarakan perlombaan, dan kami fikir itu hal yang wajar karena bisa saja itu tertiup oleh angin, karena saat itu cuaca sedikit gerimis dan berangin. 

Tak ada seorangpun yang berfikiran negatif tentang hal itu tapi tak lama kemudian "dug" jatuh kembali gendang marawis tersebut dan kami masih berfikiran positif, tapi ketika gendang marawis jatuh untuk ketiga kalinya kami pun berfikir ada hal yang ganjil tentang kejadian itu karena gendang marawis sudah diletakkan didalam lemari kecil di sudut mushola dan kemungkinan untuk jatuh itu tidak ada, tapi tetap saja marawis itu jatuh, setelah kami berunding dan bertanya tanya terungkaplah, kenapa itu bisa terjadi ? 
mungkin penghuni mushola itu ingin kami para anggota osis untuk selalu beribadah kepada Allah SWT. dan itu adalah cara dia menegur dan memberikan perhatian kepada kita. Allahualam, itu semua kejadian yang dirasa sangat menjadi pelajaran yang penting bagi kami.

Seberapa lelahnya, seberapa sibuknya, seberapa terburu burunya kita harus selalu ingat kepada Sang Pencipta Kita yaitu Allah SWT.

Writer:
Muhamad Royani Sopian
SMK Citra Bangsa

What is Gaul?
Redaksi 1 komentar


Gaul, oke kalian udah ngerasa gaul, tapi sebenernya kalian tau enggak sih arti gaul menurut bahasa? hahaha jangan sampe salah gaul, bukannya pandai bergaul malah digauli, uppss.. Dari pada banyak ba bi bu gak jelas mending langsung aja kita check it out!

5 Golongan Gaul

1. Gaul Gadget
Nah ini nih orang kaya, biasanya mereka sering menghabiskan uang untuk membeli Gadget terbaru mau yang punya brand atau enggak, tetep aja di beli soalnya kalo gak beli malu sama tahun yang udah makin tua makin pinter. Entah itu buat browsing, chatting, update status, atau yang lebih parahnya lg buat ajang ngestalk mantan.

2. Gaul Pengetahuan
Pengetahuan itu penting banget Putih abuers, jaman sekarang kalo buta oengetahuan kita bisa di anggap manusia stok terakhir zaman kiwari loh.. hiiii gamau kan kalian? Lagian kalo kalian punya pengetahuan yang lebih, kalian bisa lebih leluasa kalo lagi ngobrolin apapun. Ya istilahnya kalian ngobrol sama manusia seusia apapun pasti bisa menangani jawaban atau pertanyaan yang mereka lontarkan, dari jawaban yang kalian kasih banyak kemungkinan kalian akan dianggap pintar loh...

3. Gaul Tempat
"Eh nonton festival teater yuk di TIM!"
"Waaaah... ayok!!"
"Tapi TIM itu dimana yah? Terus TIM itu apa Hehe.."
"Itu namanya taman ismail marzuki yang ada di Jakarta tauuuuuu! Huuuuugh... *garukperut*"
Tuh kan Putih abuers malu-maluin, jangan sampe yah kalian buta pengetahuan, gatau tempat, gatau informasi? Wah wah bahaya. Yuk ah mulai sekarang jangan cuma ngerem di rumah aja, coba deh ke luar dari zona nyaman. Dijamin Seruuuu!!!

4. Gaul Fashion
Dateng ke sekolah pake tas main, bawa make up kaya tante tante, rambut di sasak abis biar keliatan lebih beda "beda sih tapi nanti jatohnya kayak alien"
Tata rambut curly sederhana, make up natural, tas ransel pada umumnya itu udah cukup kok buat kalian agar terlihat lebih fashionable layaknya "anak sekolah"

5. Gaul Sosial Media
Aplikasi di smartphone kalian pasti jibunan yah, ngaku nggak kalo suka pathan? Twitteran, line, kakao, facebook, IG, WA, Tweetdeck, ubersosial, ChatOn, hadooooh pusing deh kalo di absen satu satu.
Tujuan buat sosial media banyak!
Contoh : Pingin Tenar melalui apa apa saja yang teruptodate dari dirinya, misal lagi di mana update, makan apa di foto terua di update, kesel marah susah senang di update tapi cuma satu yang gak akan pernah di update. "Pas kita menghadp kepada ilahi" hiiii horor!

Sudah sekian terimakasih atas pembacaan untuk bahasan gaul kita kali ini, itu semua bertujuan untuk kita tetap bertahan dan tidak di lengserkan oleh si zaman, Read more see you and ba bi bu...

Writer:
Fitri Komalasari

Senin, 16 Juni 2014

Ujian Hidup Siswa : 1 Hari Menegangkan
RedaksiSenin, 16 Juni 2014 0 komentar



Setelah pengumuman SNMPTN pada 27 Mei 2014, wajah menegangkan tetap tergambar pada siswa kelas tiga SMA yang belum lolos dalam SNMPTN 2014. Karena pada tahun ini terjadi pemerosotan yang cukup besar dalam penerimaan SNMPTN, meskipun begitu tidak menggoyahkan semangat para siswa kelas tiga SMA yang ingin melanjutkan study-nya untuk tetap belajar di Perguruan Tinggi Negeri (PTN) yang mereka dambakan. Mereka yang berencana mengikuti Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) tetap berjibaku dalam mempersiapkan diri mengikuti ujian tulis yang akan berlangsung selama satu hari, pada 17 Juni 2014.

“Sistem SNMPTN tahun ini jauh lebih baik dan diperketat, karena tertata rapih dengan adanya PDSS disetiap sekolah. Tetapi kuota jurusan yang diberikan oleh PTN dikerucutkan menjadi tiga program studi dibanding sebelumnya yang memberikan empat program studi. Untuk sistem SBMPTN tahun ini sangat berbeda, karena diberikan kuota untuk calon siswa yang akan mendaftar,” tutur Arktik Isnaeni selaku Guru BK SMA Kornita.

SBMPTN memiliki tiga kelompuk ujian yaitu Sains dan Teknologi (Saintek), Sosial Humaniora (Soshum), dan Kelompok Ujian Campuran. Para siswa akan mengikuti dua sesi dalam SBMPTN, yaitu Tes Kemampuan dan Potensi Akademik  dan Tes Kemampuan Dasar. Dalam hal ini, peran aktif  dari orang tua sangat dibutuhkan untuk membantu anaknya dalam memilih PTN yang akan diambilnya nanti. Dikarenakan banyak orang tua yang kontradiktif dengan anaknya dalam memilih PTN dan akhirnya tidak mengambilnya  jika sudah diterimanya nanti.

“Kenapa sampai terjadi pemorosotan SNMPTN ditahun ini, dikarenakan banyak siswa yang tidak mengambil kesempatan ketika sudah diterima di PTN dan ini merugikan PTN yang mengundang mereka. Jadi sangat diharapkan jika SBMPTN nanti diterima, mereka wajib mengambilnya agar PTN tidak memblacklist sekolahnya,” jelas Edo Rahardi Permana.
SBMPTN yang baru dibangun oleh Menteri Pendidikan dan Budaya (mendikbud) ini lebih terarah dibandingkan dengan tiga tahun sebelumnya yang menggunakan seleksi tulis langsung dari PTN. Dengan begitu level semua universitas negeri yang ada mulai dari syarat-syarat, kriteria, dan lainnya menjadi sama rata dengan adanya sistem SBMPTN ini.


“Harapan saya untuk siswa yang akan melaksanakan SBMPTN, harus menikmati dan tidak tegang. Karena ini bagian dari ujian mereka, dan tanpa ujian ini siswa tidak bisa menentukan masa depannya akan seperti apa. Dan jika sudah diterima di PTN mereka harus memberikan prestasi yang terbaik untuk diri sendiri, orang tua, dan sekolahnya,” pungkas Wakil Presiden Mahasiswa IPB itu.

Writer :
Denny Bimantara
SMA Kornita Bogor

Selasa, 10 Juni 2014

Prestasi atau Eksistensi ?
RedaksiSelasa, 10 Juni 2014 0 komentar


        Seringkali kita dengar tentang kata Tawuran. Apa sih Tawuran itu ? Menurut saya Tawuran itu adalah suatu perbuatan yang dilakukan oleh sekumpulan orang yang melanggar norma-norma pendidikan dan hak asasi manusia dengan menggunakan kekerasan yang dapat merugikan pihak terkait. Tawuran pada umumnya terjadi pada pelajar yang biasanya berujung pada kematian. 

Tawuran yang terjadi dikalangan pelajar ini sangat diprihatinkan karena peraturan pemerintah yang melarang pelajar untuk berbuat kekerasan dirasa sudah tidak di indahkan lagi. Pelajar yang seharusnya menjadi generasi penerus bangsa kini seakan terjerat oleh kebiasaan tercela. Bermula dari keinginan untuk mencari Eksistensi, tawuran pun sudah tidak bisa dicegah. Sekumpulan pelajar yang saling ejek dirasa menjadi pemicu tawuran, yang lebih ironisnya bukan hanya itu saja, wanita cantikpun dapat menjadi penyebab terjadinya tawuran.

        Ada beberapa faktor yang mendasari pelajar untuk melakukan tindakan Tawuran, antara lain :
a.        Kurangnya Perhatian Orang Tua.
Kurangnya perhatian orang tua terhadap anak sehingga anak tersebut merasa dirinya perlu perhatian lebih, mengingat banyak orang tua yang bertengkar hanya gara-gara masalah sepele dan menjadikan anak sebagai tempat untuk melampiaskan kesalahan oleh karena itu anak tersebut mencari perhatian dengan caranya sendiri yaitu dengan melakukan hal-hal negatif salah satunya dengan tawuran.

b.        Kurangnya Pembelajaran Sikap Dan Etika.
Biasanya anak yang terlibat dengan tawuran adalah anak yang kurang pembelajaran dalam hal sikap dan etika, karena yang ia fikirkan adalah ajang pembuktian bahwa dia lah yang paling kuat dan hebat tanpa memikirkan keselamatan dirinya sendiri.

c.        Kurangnya Pengetahuan Tentang Norma Hukum.
Pelajaran tentang norma hukum dirasa harus ditingkatkan kembali, mengingat pelajar pada saat ini sudah tidak lagi memperdulikan tentang norma dan hukum yang berlaku di Indonesia.

d.        Faktor Lingkungan Sekitar.
Faktor awal terjadinya tawuran adalah lingkungan sekitar atau lingkungan yang biasa kita huni, karena setiap prilaku atau kebiasaan yang dilakukan berasal dari lingkungan yang kita huni terutama lingkungan rumah.

e.        Faktor Pergaulan.
Faktor pergaulanpun dirasa menjadi penyebab utama terjadinya tawuran. Berawal dari pertemanan, tempat kumpul dan  kebiasaan-kebiasaan aneh tawuran pun bisa saja terjadi. Karena  teman adalah seseorang yang dapat memberikan pengaruh besar pada anak tersebut.

Tawuran tidak akan pernah memberikan dampak positif bagi pelajar, tetapi tauran adalah tempat yang akan menjerumuskan pelajar kedalam lingkungan kriminal. Dampak negatif tawuran bagi pelajar antara lain :

a.        Menyebabkan kematian.
b.        Menyebabkan hilangnya masa depan yang cerah.
c.        Dijauhi teman.
d.        Tidak disukai oleh banyak orang.
e.        Mempermalukan nama baik orang tua.
f.        Merusak nama baik sekolah.

Setiap tindakan yang dilakukan pasti akan ada pertanggung jawabannya, meskipun tauran hanya untuk membela teman tetap saja perlu adanya pertanggung jawaban. Maka dari itu jauhilah tauran terutama tauran antar pelajar karena tauran hanya akan memberikan dampak yang negatif. Jika ingin mencari perhatian sebaiknya melakukan hal yang positif dan yang memberikan manfaat bagi orang banyak. 
Say NO TAURAN, Say YES PRESTASI !!!

Writer :
Muhamad Royani Spn.
SMK CITRA BANGSA